Artikel

MENJAGA DIRI DARI PERKATAAN SIA-SIA


"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37)

Berapa banyak kita temui orang-orang yang mengatakan: "mulut...mulut saya.. saya mau ngomong apa...terserah saya doong?? Mengapa Anda ikut campur?" Bagi orang dunia mungkin hal tersebut merupakan hal yang biasa, namun sebagai orang percaya, sebagai murid Yesus, apalagi terhisab dalam COOL tentu kita harus menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut kita dengan baik.

Memasuki dekade Pey (5780-5789), Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina mengingatkan kita tentang mulut! Salah satu yang diingatkan adalah terkait dengan "kata sia-sia". Dalam bahasa aslinya, kata sia-sia adalah perkataan yang diucapkan tanpa berpikir, perkataan berbahaya dan perkataan yang tidak menguntungkan atau tidak berharga. Bahkan kata sia-sia yang dimaksud dalam konteks perikop ini adalah kata-kata yang buruk, yang tidak mempunyai dasar dan kata-kata fitnah termasuk hoax.

Dalam perikop Matius 12:22-37, Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan yang menderita buta dan bisu. Ketika Orang Farisi mendengar bagaimana sekalian orang banyak mulai berpikir dan menduga bahwa Yesus Anak Daud (Raja atau Mesias yang dinantikan), mereka berusaha membusukan Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Dengan demikian orang Farisi tersebut berkata-kata menentang dan menghujat Roh Kudus. Hal inilah yang menjadi dasar TUHAN YESUS menegur mereka dan menyampaikan bahwa setiap kata sia-sia harus dipertanggung jawabkan pada hari penghakiman!

Bagaimana agar kita bisa menjaga perkataan, sehingga tidak mengucapkan kata sia-sia:

1.       Miliki Karakter yang baik

"...bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat?" (Matius 12:34)

Tuhan Yesus dalam teguran-Nya kepada kepada orang farisi mengkaitkan antara perkataan dengan karakter seseorang. Tentu ini adalah hal yang sangat tepat dan tidak terbantahkan. Orang-orang dengan karakter yang keras/kasar, umumnya berkata-kata secara kasar (sarkasme). Mereka yang memiliki karakter yang baik dan lembut umumnya berkata-kata dengan lembut/baik.

Tuhan Yesus menyebut orang farisi sebagai poneros yang artinya pendosa, buruk, jahat, sakit secara moral, itu sebabnya perkataan yang keluar dari mulut mereka adalah jahat dan sia-sia.

Marilah kita memiliki karakter yang baik, karakter Kristus sebagaimana tertuang dalam 1 Korintus 13:1-13 dan Galatia 5:22-23.

2.       Miliki Hati yang bersih

"...Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat." (Matius 12:34b-35).

Matthew Henry mengatakan, hati manusia ibarat sumber mata air dan perkataan manusia adalah sungai-sungai yang mengalir dari sumber mata air tersebut. Jika sumber mata airnya rusak atau tercemar, maka yang keluar dan mengalir ke sungai-sungainya adalah aliran lumpur atau aliran yang berbau tidak sedap (berbau busuk). Jadi bisa dipastikan bahwa perkataan kasar meluap dari hati yang kasar, perkataan kebencian/kepahitan keluar dari hati yang benci/pahit, perkataan yang najis berasal dari hati yang najis. Karenanya, kita harus memastikan hati kita senantiasa dalam kondisi yang bersih. tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan kepahitan dan tidak menyimpan hal-hal yang najis. Bertobat segera, lepaskan pengampunan/segala kenajisan dan minta Tuhan Yesus jamah dan kuduskan hati kita. Amin. (DL)

Last Update : 2020-03-20 01:38:25